Politik Simulacra dalam Ekstasi Media Sosial di Indonesia

Penulis

  • Novi Indah Sari Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Adab & Humanioar Cabang Gowa Raya Penulis

Kata Kunci:

Simulacra, Hiperrealitas, Politik Digital, Media Sosial, Baudrillard

Abstrak

Perkembangan media sosial dalam era digital telah melahirkan ruang baru bagi produksi dan reproduksi realitas sosial-politik yang bersifat artifisial. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep simulacra Jean Baudrillard, yaitu kondisi ketika representasi tidak lagi merujuk pada realitas, melainkan menciptakan realitas baru yang dianggap lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana politik simulacra bekerja dalam ekosistem media sosial di Indonesia, khususnya dalam membentuk persepsi publik, konstruksi citra politik, serta dinamika opini publik di ruang digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research). Data dikumpulkan dari artikel ilmiah, buku, dan sumber akademik yang relevan dengan teori simulacra, hiperrealitas, dan politik digital. Analisis dilakukan dengan teknik deskriptif-analitis melalui penafsiran konsep Baudrillard terhadap fenomena politik media sosial di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi ruang hiperrealitas politik, di mana batas antara fakta dan representasi menjadi kabur. Praktik seperti penggunaan buzzer, kampanye digital, politik citra, serta produksi narasi viral menciptakan realitas politik yang dikonstruksi secara simbolik. Dalam kondisi ini, publik tidak hanya mengonsumsi informasi politik, tetapi juga terlibat dalam reproduksi simulasi yang memperkuat ilusi realitas politik itu sendiri. Kesimpulannya, politik simulacra di media sosial Indonesia menunjukkan bahwa kekuasaan tidak lagi hanya bekerja melalui institusi formal, tetapi juga melalui manipulasi tanda, citra, dan narasi digital yang membentuk persepsi publik secara masif.

Referensi

Abidin, C. (2018). Internet celebrity: Understanding fame online. Emerald Publishing.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. (2020). Laporan survei internet APJII 2019–2020. APJII.

Baudrillard, J. (1981). Simulacra and simulation. Éditions Galilée.

Baudrillard, J. (1983). Simulations. Semiotext(e).

Bennett, W. L., & Segerberg, A. (2013). The logic of connective action: Digital media and the personalization of contentious politics. Cambridge University Press.

Castells, M. (2010). The rise of the network society (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

Couldry, N., & Hepp, A. (2017). The mediated construction of reality. Polity Press.

Fuchs, C. (2014). Social media: A critical introduction. Sage Publications.

Goffman, E. (1959). The presentation of self in everyday life. Anchor Books.

Jenkins, H. (2006). Convergence culture: Where old and new media collide. New York University Press.

Kellner, D. (2003). Media spectacle. Routledge.

Lister, M., Dovey, J., Giddings, S., Grant, I., & Kelly, K. (2009). New media: A critical introduction (2nd ed.). Routledge.

Manovich, L. (2001). The language of new media. MIT Press.

Nasrullah, R. (2015). Media sosial: Perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi. Simbiosa Rekatama Media.

Poster, M. (1995). The second media age. Polity Press.

We Are Social. (2019). Digital 2019: Indonesia report. We Are Social & Hootsuite.

Diterbitkan

2026-03-31

Terbitan

Bagian

Articles

Cara Mengutip

Politik Simulacra dalam Ekstasi Media Sosial di Indonesia. (2026). AMACCANG: Journal of Multidisciplinary Studies, 1(1), 26-30. https://jurnal.lorosengada.org/index.php/amaccang/article/view/8

Artikel Serupa

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.